Situs Candi Cangkuang Garut

Telah pernah bertandang ke Garut? Bila jalan-jalan kesana, pasti belumlah komplit bila tak berkunjung ke obyek Wisata Garut yang cukup populer di daerah ini yakni Situ Bagendit, Curug Orok Garut serta Situ Cangkuang (Candi Cangkuang), Kawah Gunung Papandayan, Kampung Naga dan lain-lain. 

Kelihatannya di Kabupaten Garut memanglah banyak situ-situan (sunda : danau), mungkin saja lantaran topografinya yang dipenuhi lembah serta gunung-gunung. Serta sudah pasti hal semacam ini jadikan landscape alami kota itu jadi lebih cantik. Jalan-jalan ini saya kerjakan di sela-sela survey umbi seputar 2 th. silam (November 2008). Ya rugi dong bila kerja tidak sekalian jalan-jalan, ya tidak?!! Hehehe. Saat itu saya serta rekan telah ada di propinsi paling akhir yakni Jawa Barat. Kami bermalam di hotel di daerah Bandung. Hari pertama perjalanan ke arah Kabupaten Sumedang serta hari selanjutnya saya teruskan di Kabupaten Garut. 



Berikut ini kami sampaikan pengalaman salah satu wisatawan yang merupakan siswa DIS (Deutsche Internationale Schule) yang berlibur ke Garut selama 3 hari 4 malam dengan didampingi Tour Guide Garut yang paling berpengalaman dan terpercaya HDG Team Planner & Tour Organizer ke beberapa lokasi rekreasi yang populer di kota Garut. Salah satunya adalah pengalaman siswa tersebut melakukan wisata ke Candi Cangkuang Garut, harap dimaklumi karena siswi ini asli Jerman dalam penyampaian bahasa Indonesianya agak kurang pas dan tidak sesuai EYD.

Hari itu kami pergi dari hotel ke Garut seputar jam 8 pagi. Jarak antar Bandung-Garut tak terlampau jauh, paling cuma ditempuh seputar 1 jam lebih, jadi kami telah meraih tempat saat pagi hari seputar jam 9-an. Pekerjaan untuk memperoleh umbipun telah dapat didapat kurun waktu singkat. Jadi kami mempunyai saat banyak di hari itu untuk jalan-jalan. Kebetulan posisi kami saat itu tak jauh dari tempat wisata yang dituju. Kami ada di Kecamatan Leles. Situ Bagendit terdapat di Kecamatan Banyuresmi, sedang Candi Cangkuang terdapat di Kecamatan Leles. 

Namun agar rutenya tidak muter-muter, dan mempermudah pencapaian tempat, kami mengambil keputusan menuju Situ Bagendit dahulu, baru ke Candi Cangkuang. Maklum jalan menuju Candi Cangkuang agak sempit serta lebih susah. Selama jalan, kami disajikan panorama indah, komposisi menarik pada gunung serta bukit, digabungkan dengan sawah terasering. Namun sayangnya banyak juga bukit-bukit yang telah digunduli. Manusia memanglah kerap kejam pada alam sekitarnya

" Situ cangkuang laukna hese di pancing " tersebut hal yang saya ingat saat mendengar kata situ cankuang. Situ yang memiliki luas yang lebar ini memiliki histori yang menarik.

Saat saya bertandang kesana memanglah cuma ada situ yang luas berbarengan rakit rakit yang bertengger di pinggiranya. Menyebrang situ untuk lihat suatu candi memiliki ukuran seputar 4x4 m dengan ketinggian seputar 3m yang di dalamnya ada suatu patung.

Di tepi candi juga ada suatu makam yang di pagar serta beberapa pengunjung dilarang untuk masuk lokasi makam itu. Apabila anda mau mengetahui lebih jauh perihal candi serta situ cangkuang kita dapat masuk ke rumah kecil tak jauh dari tempat candi. Di sana ada banyak benda histori seperti buku kuno. barang peninggalan hingga lukisan.

Menarik. Tetapi kurang hingga di sana, menengok sedikit ke arah utara, seputar 600 m dari candi ada suatu perkampungan yang diberi nama kampung pulo, cuma ada 6 rumah serta 1 musola kecil. di sana jumlah orang perumah dibatasi. jika ada kehidupan baru (bayi lahir) jadi seorang mesti beralih, begitupun demikian sebaliknya. Saat sesoeorang wafat jadi mesti ada ubahnya.



Di selama jalan menuju candipun ada banyak kesenian garut yang di jajakan. Apabila anda ke garut luangkan diri anda untuk bertandang ke candi cangkuang.

Sesampainya di tempat, saya sekalipun tak lihat Candi. Nyatanya candinya ada di pulau seberang, jadi kita mesti menyebrangi Situ Cangkuang dahulu. Sama dengan di Situ Bagendit, disana juga disiapkan rakit untuk menyebrang ke Pulau, namun harga nya lebih mahal, per orang dikenai cost Rp. 15. 000, -. Telah ditawar namun terus tak di turunkan juga harga nya. Pada akhirnya kami terus naik rakit itu lantaran memanglah belum pernah kesana. Ticket ditempat ini sedikit lebih mahal dari pada Situ Bagendit namun saya lupa harga nya berapakah saat itu. Situ Cangkuang lebih bersih daripada Situ Bagendit, pemandangannya juga indah serta dikelilingi oleh gunung-gunung, satu diantaranya Gunung Haruman. Dari terlalu jauh pulau di seberang terlihat sejuk serta asri lantaran banyak pepohonannya.

Terlihat Candi Cangkuang berdiri kokoh di dalam pulau, ukurannya tak terlampau besar. Namun disana ada ruangan yang dapat dimasuki, serta di dalamnya ada Arca Dewa Siwa. Rupanya candi ini datang dari peninggalan zaman kerajaan Hindu era VIII, serta kata penjaga disana bentuk candi yang saat ini dipandang itu cuma rekaan saja. Mungkin saja bentuk aslinya tak seperti itu. Di samping candi ada makam tokoh yang dimaksud Eyang Embah Dalam Arif Muhammad. Menurut petugas di situ, beliau yaitu adalah tokoh yang menebarkan agama islam di daerah ini. Saat itu beliau dikejar-kejar oleh tentara Belanda serta sukses melepaskan diri, pada akhirnya tiba di Kampung Cangkuang ini. Walau saat ini telah beragama islam, kelihatannya di daerah ini ada banyak memegang keyakinan hindu, diantaranya pantangan bekerja di hari Rabu, larangan pelihara hewan berkaki empat serta memukul gong. Tak tahu apa penyebab, mungkin saja ini bentuk akulturasi hindu-islam. Di tempat ini banyak didapati tumbuhan Cangkuang (grup pandan-pandanan) dari species Pandanus puratus. Tersebut penyebab candi ini dimaksud Candi Cangkuang.




Saya serta rekanku jalan menuju bangunan simpel di tempat candi. Tempat ini memanglah sepi sekali, penerangan juga terbatas, tak ada pengunjung lain terkecuali kami. Disana cuma terdapat banyak penjaga, mereka mempersilahkan kami masuk ke. Wow nyatanya didalam sangat banyak disimpan benda-benda kuno bersejarah peninggalan Eyang Embah Dalam Arif Muhammad. Diantaranya : kitab fiqih, naskah khutbah jum’at terpanjang di Indonesia, kitab suci Al-Qur’an era ke-17 M. Kondisinya agak kronis, maka dari itu tak bisa dipegang. Saya cuma dapat memphotonya dari balik kaca. Kelihatannya museum ini tak memperoleh perhatian dari pemerintah setempat. Masih tetap di pulau yang sama, tak jauh dari Candi Cangkuang, ada kampung unik yang bernama Kampung Pulo. Saya sebut unik lantaran rumah yang ada disana jumlahnya tak bisa jadi tambah dengan kata lain terus, yakni 6 rumah serta 1 mushola. Ke enam rumah letaknya bertemu 3-3.

Rupanya komposisi rumah ini melukiskan jumlah anak Eyang Embah Dalam Arif Muhammad yakni 6 anak wanita serta 1 anak laki-laki. Menurut narasi, anak laki-laki wafat hingga yang ada saat ini yaitu keturunannya dari anak wanita. Yang bisa tempati rumah itu hanya anak wanita, sedang anak laki-laki mesti tempati diluar pulau. Unik sih namun aneh juga ya, bila kalau tak ada seseorang anak wanita juga yang ingin tempati rumah ini lantaran mau merantau bagaimanakah ya? Tak tahu hingga kapan kebiasaan ini bertahan. Sesungguhnya disana terdapat banyak pulau terkecuali pulau yang saya kunjungi, serta terbesar memanglah yang ada Candi Cangkuangnya. Namun berhubung belum makan siang serta takut pulangnya kesorean, pada akhirnya perjalanan di Garut Hanya hingga disini saja. Lumayanlah jadi tahu Situ Bagendit serta Candi Cangkuang, walau disana cuma sebentar. Ohya tidak lupa berfoto-foto narsis dahulu di depan Candi serta Situ. 

Untuk selanjutnya kami akan menyampaikan review dan pengalaman beberapa wisatawan baik secara pribadi ataupun rombongan dimana mereka melihat Tempat Wisata di Garut dari presfektif tamu bukan sekadar basa-basi yang tidak pasti dari kaca mata promosi. Data dan Fakta yang disampaikan ini sesuai dengan pengalaman mereka melaksanakan liburan ke kota Garut dan menyampaikan kesan dan pesannya selama city tour ke beberapa tempat wisata di Garut.

2 komentar :

  1. wow! amazing... kalo wisata di garut yang gratis dimana ya?

    BalasHapus
  2. Dulu waktu di garut saya ke sendang darajat. pengen ke sana lagi, tapi belum kesampaian sampe sekarang.

    BalasHapus